SANGATTA – Di tengah peliknya persoalan sampah perkotaan, solusi konkret justru lahir dari lorong permukiman. Di Gang Batri, tepat di seberang Polder Ilham Maulana, Sangatta Utara, Agus Prawoto membuktikan bahwa sampah organik bukan sekadar beban lingkungan, melainkan sumber nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Dengan memanfaatkan kandang berukuran 12×30 meter di kawasan permukiman kota, Agus mengembangkan sistem peternakan ayam kampung terintegrasi pengolahan limbah organik. Sisa makanan dari restoran hingga mess karyawan perusahaan tambang diolah menjadi maggot Black Soldier Fly (BSF), pakan berprotein tinggi yang menjadi penopang utama usaha ternaknya.
Model ini tidak hanya menghasilkan ayam kampung yang sehat dan bernilai jual, tetapi juga berkontribusi langsung dalam menekan volume sampah yang berpotensi mencemari lingkungan. Sistem tersebut selaras dengan prinsip ekonomi sirkular dan ketahanan pangan, namun ironisnya tumbuh tanpa dukungan pemerintah daerah.
Seluruh infrastruktur utama, mulai dari pembangunan kandang hingga operasional pengolahan limbah, berdiri berkat dukungan sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Kaltim Prima Coal (KPC). Sementara pasokan sampah organik sebagian besar berasal dari PT Pama Persada, site KPCS.
“Fasilitas kandang 12×30 meter dan operasional pengolahan limbah ini semuanya murni bantuan perusahaan, yakni PT KPC. Sampahnya kita kelola dari Pama Persada. Sampai sekarang memang belum ada campur tangan atau bantuan dari pemerintah daerah,” ujar Agus Prawoto saat ditemui di lokasi, Selasa (6/1/2026).
Pernyataan tersebut mencerminkan kontras antara retorika kebijakan dan realitas lapangan. Di saat pemerintah kerap menggaungkan penanganan sampah, ekonomi hijau, dan ketahanan pangan, praktik konkret justru dijalankan oleh warga dengan dukungan dunia usaha.
Bagi Agus, “emas” yang dihasilkan bukan hanya keuntungan dari panen ayam kampung. Lebih dari itu, ada kepuasan karena mampu menghadirkan solusi lingkungan secara mandiri, berkelanjutan, dan berdampak langsung bagi kota Sangatta.
Di luar sorotan dan tanpa seremoni, aktivitas di kandang Gang Batri terus berjalan. Limbah diolah setiap hari, maggot dipanen, ayam dibesarkan, dan sampah kota berkurang. Sebuah pelajaran penting bahwa inovasi sering kali telah hadir di tengah masyarakat namun belum tentu tersentuh oleh kebijakan.
Penulis: Ramlah
Editor: Nicha R


