Agus Susanto dan Keberanian Memberi Ruang Bertumbuh

Catatan Wartawan : Ramlah – Kabiro Kutai Timur

SANGATTA—Tidak semua pemimpin nyaman dengan kebebasan. Sebagian lebih tenang jika semua bergerak seragam. Mudah dikontrol. Mudah dievaluasi.

Agus Susanto memilih jalan lain. Di Lembah Permai Adventure, Bontang, di hadapan karyawan Media Kaltim yang datang dari sepuluh daerah, bahkan dari Jakarta dan IKN, ia menyampaikan sesuatu yang terdengar sederhana tapi sesungguhnya berat dijalankan, yakni memberi ruang bertumbuh.

Setiap biro dipersilakan berkembang dengan caranya sendiri. Tidak harus meniru pusat. Tidak wajib sama dengan daerah lain. Yang penting hidup. Bertumbuh. Pastinya relevan dengan lingkungannya.

Itulah keberanian. Karena kebebasan selalu datang beriringan dengan risiko. Hasilnya bisa berbeda-beda. Kecepatannya tidak sama. Bahkan, bisa saja ada yang jatuh lebih dulu sebelum bangkit.

Namun Agus tampak paham satu hal, media daerah tidak bisa diperlakukan seperti pabrik. Ia hidup dari konteks. Dari kepekaan pada sekitar. Dari manusia-manusia yang bekerja di dalamnya.

Bagi saya pribadi, kalimat itu bekerja pelan tapi dalam. Membuat saya lebih banyak mendengar daripada berbicara. Mendengar cerita teman-teman biro lain yang sudah lebih dulu menemukan iramanya sendiri.

Baca Juga:   29 OPD Belum Serahkan Dokumen RPJMD, Bupati Kutim Beri Ultimatum

Ada yang bertumbuh cepat. Ada yang bertahan dengan cara sederhana. Ada yang diam-diam kuat. Dan di situ saya belajar bahwa bertumbuh tidak selalu tentang angka. Kadang ia tentang keberanian mengambil keputusan sendiri. Tentang bertanggung jawab pada pilihan.

Tiga hari bersama di Bontang tidak mengubah segalanya. Tapi cukup untuk menegaskan arah. Bahwa Media Kaltim tidak dibangun dengan keseragaman, melainkan dengan kepercayaan.

Agus Susanto mungkin tidak menyebutnya teori kepemimpinan. Ia hanya memberi ruang. Tapi justru di ruang itulah kami diuji: apakah mampu bertumbuh, atau hanya nyaman diberi kebebasan.

Kami pulang ke daerah masing-masing. Dengan pekerjaan yang sama. Tantangan yang sama. Tapi dengan satu kesadaran baru: kepercayaan sudah diberikan. Dan kepercayaan, selalu menuntut tanggung jawab. (*)