Pasokan Aman dari Sulawesi–Jawa, Harga Beras Kutim Kembali Stabil

SANGATTA – Ketersediaan beras di Kutai Timur (Kutim) dipastikan aman. Pasokan yang didatangkan dari Sulawesi dan Jawa kembali lancar, membuat harga beras di pasaran mulai stabil jelang Idulfitri.

Kepastian itu disampaikan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kutai Timur (Disperindag) Kutim setelah melakukan pengecekan langsung ke gudang distributor dan toko ritel.

Fungsional Ahli Madya Disperindag Kutim, Benita, menyebut stok beras di tiga distributor utama dalam kondisi mencukupi hingga Lebaran.

“Stok banyak, sampai Lebaran aman. Kami sudah turun langsung cek ke gudang,” ujarnya.

Dari sisi harga, tren juga menunjukkan perbaikan. Beras premium kini berada di angka Rp15.400 per kilogram, turun dari sebelumnya Rp17.000 per kilogram. Sementara beras medium yang sempat berada di kisaran Rp15.700–Rp16.000 per kilogram, kini dijual Rp14.000 per kilogram.

Di tingkat distributor, harga beras premium tercatat Rp15.200 per kilogram. Selisih dengan harga eceran hanya sekitar Rp200 per kilogram.

“Keuntungan pedagang tidak banyak. Selisihnya tipis,” jelasnya.

Sebelumnya, harga beras sempat melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET). Menurut Benita, kondisi itu dipicu belum masuknya masa panen di daerah pemasok, khususnya Sulawesi.

Baca Juga:   Respons Keluhan Warga Soal BBM Oplosan, Disperindag Kutim dan Polres Gelar Sidak di SPBU STC

“Sekarang sudah masuk musim panen, jadi harga mulai turun dan stabil,” terangnya.

Ia menegaskan, Kutim bukan daerah penghasil beras, melainkan daerah konsumen. Karena itu, pasokan sangat bergantung pada produksi di daerah lain seperti Sulawesi dan Jawa. Fluktuasi harga di tingkat produsen otomatis berdampak pada harga di Kutim.

“Kalau di daerah produsen harga naik, di sini ikut naik. Begitu juga saat panen raya, harga cenderung stabil atau turun,” katanya.

Disperindag Kutim bersama Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian, PTSP, serta Polres Kutim terus memantau perkembangan harga dan stok bahan pokok di pasaran. Langkah itu dilakukan untuk memastikan masyarakat bisa menyambut Lebaran tanpa kekhawatiran soal kebutuhan pokok.

“Kami berharap harga tetap stabil dan masyarakat tidak perlu panik,” pungkasnya.

Penulis: Ramlah