Takbir Keliling BSD Bontang Meriah, 41 Ekor Sapi Disembelih untuk 1.505 KK

Malam Iduladha (26/5/2026) di Perumahan Bukit Sekatup Damai (BSD) Bontang kembali ramai tahun ini. Takbir keliling kembali digelar warga BSD dengan suasana yang meriah. Hampir seluruh RT di BSD ikut turun ke jalan. Saya ikut berjalan bersama rombongan RT 39 BSD.

Takbir keliling dimulai dari bundaran depan Masjid Fathul Khoir. Rombongan lalu bergerak ke Jalan Gunung Putri, keluar hingga depan BC Mart di Jalan Cipto Mangunkusumo, kemudian kembali masuk ke kawasan BSD melalui Jalan Gunung Tambora dan Gunung Merbabu sebelum finis lagi di bundaran.

Sepanjang jalan, beberapa warga terlihat ikut menonton iring-iringan peserta. Anak-anak membawa obor dan lampu kecil. Ibu-ibu kompak memakai gamis dan hijab seragam. Para bapak sibuk mengawal rombongan sambil sesekali mengatur kendaraan yang melintas.

Yang paling menarik tentu berbagai ornamen yang dibawa masing-masing RT. Ada miniatur Ka’bah lengkap dengan lampu hias. Ada replika bulan sabit bertuliskan lafaz Allah. Ada miniatur masjid dari botol plastik bekas. Ada juga replika hewan kurban dan gapura islami yang menyala warna-warni sepanjang jalan.

Baca Juga:   Kaltim Butuh Lebih Banyak Wakil Seperti Hetifah

RT 26 paling mencuri perhatian lewat ornamen masjid berukuran besar dari botol air mineral dengan permainan cahaya lampu yang cukup megah. Sementara rombongan RT 39 membawa ornamen Ka’bah dan tulisan Allah-Muhammad sederhana yang tetap ramai mendapat perhatian warga saat melintas di jalan utama BSD.

Di tengah perjalanan, rombongan RT 39 sebenarnya sempat mengalami kendala kecil. Sound system yang dibawa tiba-tiba mati karena baterai drop. Tetapi rombongan tetap berjalan. Takbir tetap bergema. Ibu-ibu, bapak-bapak dan anak-anak tetap kompak melantunkan takbir sepanjang jalan tanpa bantuan speaker.

Sementara rombongan RT lain tetap semarak dengan suara sound masing-masing yang bersahutan memenuhi kawasan BSD. Di akhir kegiatan, panitia mengumumkan pemenang takbir keliling. Juara pertama diraih RT 26, disusul RT 27 di posisi kedua dan RT 41 di posisi ketiga.

Paginya (27/5/2026), suasana berubah lebih khidmat. Sejak selepas subuh, warga mulai memadati bundaran BSD depan Masjid Fathul Khoir untuk mengikuti Salat Iduladha 1447 Hijriah.

Lapangan bundaran perlahan penuh. Anak-anak duduk di saf depan bersama orang tua. Sebagian besar warga membawa sajadah sendiri dan memilih datang lebih awal agar mendapat tempat nyaman.

Baca Juga:   Pahitnya Menang Lelang Negara (4): Serangan Balik di Tahap Replik dan Duplik

Di lingkungan BSD sendiri sebenarnya ada dua masjid besar, yakni Masjid Fathul Khoir dan Masjid Al Jabal. Namun untuk Salat Id, seluruh warga dipusatkan di satu lokasi di bundaran BSD. Ribuan warga hadir pagi tadi.

Khotib Salat Id adalah Ustaz M. Syukur Yusuf, Lc., Dipl. SI. Dalam khutbahnya, ia banyak mengingatkan soal pentingnya berbakti kepada orang tua, menjaga keluarga dan memperkuat kepedulian sosial di tengah kehidupan masyarakat yang makin berat.

Ia juga mengingatkan bahwa sesama muslim harus saling menguatkan seperti satu bangunan yang kokoh. Usai Salat Id, aktivitas warga BSD belum selesai. Di masing-masing RT, warga kembali berkumpul untuk melaksanakan penyembelihan hewan kurban.

Total hewan kurban di lingkungan BSD tahun ini mencapai 41 ekor sapi dan 5 ekor kambing. Sementara jumlah mustahiq atau penerima daging kurban tercatat mencapai 1.505 kepala keluarga.

Di lingkungan RT 39 sendiri, warga melakukan penyembelihan empat ekor sapi.

Sejak pagi suasana gotong royong langsung terasa. Para bapak membantu proses penyembelihan dan pemotongan daging. Sementara ibu-ibu sibuk menimbang, membungkus hingga menyusun pembagian daging kurban untuk warga.

Baca Juga:   Dana Rp200 Triliun Mengalir ke Bank, Kredit Macet Mengintai Kaltim

Anak-anak juga terlihat ikut membantu sambil bermain di sekitar lokasi penyembelihan.

Suasana seperti ini yang membuat Iduladha di lingkungan BSD selalu terasa berbeda. Bukan hanya soal ramai takbir keliling. Tetapi karena kebersamaan warganya masih benar-benar hidup. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.