SANGATTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan hadir di sekitar 100 titik di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) diperkirakan membawa dampak ekonomi yang besar bagi pelaku usaha lokal. Di balik target pemenuhan gizi masyarakat, program ini dinilai berpotensi menjadi mesin penggerak baru bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Salah satu komoditas yang diprediksi mengalami lonjakan permintaan adalah tahu dan tempe. Kedua bahan pangan tersebut disebut akan menjadi menu yang cukup sering digunakan dalam penyediaan makanan bergizi di berbagai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kutim, Marhadin, mengatakan kebutuhan bahan pangan untuk mendukung MBG akan sangat besar. Dengan rencana pembangunan sekitar 100 titik MBG yang tersebar hingga wilayah terluar, terdepan, dan terpencil (3T), peluang usaha bagi masyarakat terbuka lebar.
“Ada sekitar 100 titik MBG yang akan dibangun. Ini peluang usaha yang sangat besar bagi masyarakat,” ujarnya, Senin (22/6/2026).
Menurut Marhadin, tahu dan tempe diperkirakan akan masuk dalam menu MBG sebanyak dua hingga tiga kali dalam sepekan. Jika seluruh titik MBG beroperasi, kebutuhan kedua komoditas tersebut dipastikan meningkat signifikan.
Kondisi itu menjadi peluang bagi masyarakat yang ingin memulai usaha baru maupun meningkatkan kapasitas produksi yang sudah berjalan. Pasalnya, pasar untuk produk tersebut sudah tersedia dan kebutuhannya akan terus berlangsung selama program berjalan.
Di sisi lain, ia mengingatkan perlunya antisipasi terhadap ketersediaan pasokan. Jangan sampai kebutuhan SPPG menyerap sebagian besar stok yang ada sehingga memengaruhi pasokan bagi masyarakat umum.
“Jangan sampai nanti 100 titik MBG berjalan, lalu tahu dan tempe di pasar habis diserap untuk kebutuhan SPPG sehingga masyarakat kesulitan mendapatkannya,” katanya.
Untuk menghindari hal tersebut, Diskop UKM Kutim mendorong lahirnya produsen-produsen baru yang mampu memenuhi kebutuhan program MBG. Pemerintah daerah, kata Marhadin, siap memberikan pendampingan dan fasilitasi bagi masyarakat yang ingin mengembangkan usaha di sektor tersebut.
Selain tahu dan tempe, peluang usaha juga terbuka untuk berbagai produk pangan lain yang dibutuhkan dalam rantai pasok MBG. Karena itu, pelaku UMKM diharapkan mulai memetakan peluang dan menyiapkan kapasitas produksi sejak dini.
“Kalau ada masyarakat yang ingin usaha tahu dan tempe, nanti akan kita bantu. Pasarnya sudah jelas dan kebutuhannya besar,” tambahnya.
Marhadin berharap program MBG tidak hanya memberikan manfaat dari sisi kesehatan dan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi daerah. Menurutnya, semakin banyak kebutuhan program yang dipenuhi oleh pelaku usaha lokal, semakin besar pula perputaran ekonomi yang dapat dinikmati masyarakat Kutim.
“Yang kita harapkan masyarakat menjadi pelaku usahanya dan ikut menikmati manfaat ekonominya,” pungkasnya.
Penulis: Ramlah
Editor: Agus S.


