SANGATTA – Dari sebuah desa kecil di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, lahir dua penulis muda berbakat yang baru saja mencetak prestasi nasional: Yovelyn M. Giulena G. Manik (15) dan sang adik, Reynard Valentino Ginting Manik (13).
Pada 21 Mei 2025 lalu, keduanya diumumkan sebagai pemenang Lomba Menulis Cerpen Nasional yang diselenggarakan oleh platform edukasi Zona Kreatif Indonesia. Yovelyn meraih juara pertama, sementara Reynard menyusul di posisi kedua, mengungguli ratusan peserta dari seluruh Indonesia.
Yang menarik, rumah sederhana tempat mereka tinggal bahkan tidak memiliki televisi. “Sejak kecil, anak-anak memang tidak nonton TV. TV di rumah kami memang tidak berfungsi,” ujar sang ibu, Lince Hendrika, sembari tersenyum. “Mereka baru punya HP saat SMP. Elyn saja baru pegang HP saat kelas 8,” tambahnya kepada Media Kaltim, Senin (26/5/2025).
Alih-alih mengandalkan hiburan digital, Lince justru rutin membelikan anak-anaknya buku. Ia bahkan membuat perpustakaan mini di rumah—rak-rak sederhana yang kini menjadi tempat favorit bagi kakak beradik tersebut.
“Awalnya saya hanya ingin mereka tidak kecanduan gadget. Tapi ternyata, membaca malah bikin mereka betah, bahkan jadi ‘kecanduan buku’,” kata Lince. Kecintaan pada membaca itulah yang perlahan berkembang menjadi kemampuan menulis yang luar biasa.
Lomba yang mereka ikuti berlangsung dari 15 Maret hingga 15 Mei 2025, mengusung tema seputar pelajar, Indonesia, cita-cita, dan percintaan, terbuka untuk siswa SMP dan SMA dari seluruh Indonesia.
Yovelyn, siswa kelas IX SMP Dharma Utama, menulis cerpen bertema perjuangan remaja menjaga hutan dari ancaman perusahaan batu bara. Cerita itu tidak sepenuhnya fiksi; ia terinspirasi dari desanya sendiri, Muara Wahau, yang menurut rumor akan menjadi lokasi pertambangan.
“Saya ingin menyuarakan keresahan lewat cerita. Alam itu penting, dan kami tinggal dekat hutan,” ujar Yovelyn, yang mulai gemar membaca sejak duduk di bangku kelas II SD.
Sementara itu, Reynard—siswa kelas VII—menulis kisah tentang Wahyu, anak yang kehilangan ayahnya dalam kecelakaan saat bekerja di bidang konservasi. Wahyu kemudian bertekad melanjutkan perjuangan sang ayah untuk menjaga alam.
“Saya selalu merasa alam itu dekat di hati saya,” ujar Reynard yang mengidolakan penulis Tere Liye dan senang membaca novel petualangan.
Sugeng Santoso, guru pembimbing mereka di sekolah, mengaku sangat bangga atas prestasi keduanya.
“Mereka menulis dengan hati. Saya hanya mengarahkan,” ucap Sugeng. “Semoga ini jadi awal yang baik, dan karya mereka menginspirasi anak-anak lain untuk mulai menulis dan peduli pada lingkungan,” lanjutnya.
Di usia yang masih sangat muda, Yovelyn dan Reynard telah membuktikan bahwa membaca bukan sekadar hobi pengisi waktu luang, tetapi juga jalan hidup. Bukan layar gadget, tetapi halaman demi halaman buku yang memperluas wawasan, membentuk karakter, dan membawa mereka ke panggung juara.
Sang ibu menyimpan harapan sederhana, namun penuh makna.
“Saya hanya ingin mereka terus termotivasi untuk berkarya. Kalau bisa, mereka jadi inspirasi anak-anak lain, bahwa membaca itu keren,” ujarnya.
Dari rumah tanpa televisi itu, dua anak muda terus menulis, terus melangkah, dan membawa harapan. Bagi desa, bagi hutan, dan bagi Indonesia.
Penulis: Ramlah
Editor: Agus Susanto


