Kutim Masuk Zona Kritis Karhutla, BPBD: Jangan Bakar Lahan!

SANGATTA-Cuaca panas ekstrem tanpa disertai hujan yang melanda wilayah Kutai Timur (Kutim) dalam beberapa waktu terakhir, membuat daerah ini masuk dalam zona kritis kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim pun mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh perusahaan dan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak membuka lahan dengan cara dibakar.

Kepala BPBD Kutim, Muhammad Idris Syam, menegaskan imbauan ini merupakan tindak lanjut dari surat Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur Nomor 300.2.3/15004 Tahun 2025, serta hasil prakiraan cuaca dari BMKG Balikpapan.

“Potensi Karhutla semakin tinggi seiring kondisi cuaca ekstrem yang terjadi. Kami mengingatkan semua pihak, baik pelaku usaha perkebunan, pengelola hutan negara, maupun masyarakat umum agar tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apapun,” ujar Idris Syam saat disambangi Media Kaltim, Rabu (30/7/2025).

Dalam surat edaran yang dikeluarkan, BPBD meminta perusahaan perkebunan, hutan tanaman industri, dan agroforestri untuk aktif melakukan sosialisasi larangan membakar lahan kepada masyarakat sekitar. Selain itu, seluruh unit usaha juga diminta memastikan kesiapan peralatan pemadaman dalam kondisi optimal.

Baca Juga:   Isu Liar Rp600 Miliar Bergulir, PERAK: Jangan Terprovokasi Hoaks
BPBD Kutim Ingatkan perusahaan dan masyarakat agar tak membuka lahan dengan cara dibakar. (Foto : Istimewa)

Tak hanya itu, BPBD juga menginstruksikan perangkat desa, kepala dusun, RT, hingga relawan Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (Destana) dan Masyarakat Peduli Api (MPA) untuk memperketat langkah pencegahan dan siaga menghadapi potensi Karhutla.

“Kami berharap kesadaran semua pihak meningkat. Jangan sampai lalai, karena dampak Karhutla sangat luas, baik dari sisi lingkungan, kesehatan, hingga ekonomi,” tegas Idris.

Dengan status zona kritis yang kini disandang Kutim, BPBD mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersinergi menjaga lingkungan dan mencegah bencana sejak dini.

Pewarta : Ramlah Effendy
Editor : Nicha R