SANGATTA – Pembangunan Pelabuhan Kenyamukan memang belum sepenuhnya rampung. Namun, kawasan di sekitarnya sudah lebih dulu hidup dengan berbagai aktivitas warga. Setiap sore, trotoar menuju pelabuhan kini menjelma menjadi ruang publik dadakan.
Deretan pedagang kaki lima (PKL) tampak memenuhi sisi trotoar. Mereka menjajakan kopi, teh hangat, gorengan, hingga jajanan sederhana. Suasana semakin hidup ketika warga berdatangan untuk bersantai. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula remaja yang nongkrong, bahkan tak jarang terlihat anak-anak yang asyik bermain layangan di sekitar area pelabuhan.
“Kalau sore enak sekali di sini, bisa minum kopi sambil lihat anak-anak main layangan,” kata Rizal, warga Sangatta yang ditemui, Minggu(7/9/2025).
Fenomena ini membuat kawasan Pelabuhan Kenyamukan serupa kafe di ruang terbuka. Udara segar, pemandangan indah, dan jajanan murah meriah menjadikannya magnet baru bagi masyarakat Sangatta untuk melepas penat setelah beraktivitas.
Namun, ramainya pengunjung dan PKL juga menimbulkan tantangan. Trotoar yang seharusnya difungsikan untuk pejalan kaki kini hampir penuh oleh lapak pedagang. Beberapa titik tampak kurang terjaga kebersihannya, ditambah minimnya fasilitas pendukung seperti tempat sampah, penerangan, dan area parkir resmi.
“Kalau sudah malam, sampah plastik sering berserakan. Sayang sekali kalau tidak ditata sejak awal,” ujar Nuraini, seorang ibu rumah tangga yang datang bersama dua anaknya.
Selain soal kebersihan, faktor keselamatan juga menjadi perhatian. Pelabuhan sejatinya adalah kawasan dengan aktivitas transportasi laut yang membutuhkan pengaturan ketat. Kehadiran warga yang bebas keluar masuk, termasuk anak-anak yang bermain di area sekitar, berpotensi menimbulkan risiko jika tidak diawasi dengan baik.
Warga lainnya juga mengomentari fenomena trotoar Kenyamukan menunjukkan kebutuhan ruang publik yang besar di Sangatta. Masyarakat haus akan ruang interaksi terbuka, sehingga memanfaatkan area apa adanya, meski belum tentu sesuai peruntukan.
“Pemerintah sebaiknya segera merespons dengan penataan, minimal penyediaan tempat sampah, penerangan, dan zonasi untuk PKL. Kalau dibiarkan liar, lama-lama bisa menimbulkan masalah sosial,” ujar seorang yang enggan disebutkan namanya.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait soal bagaimana penataan kawasan pelabuhan ke depan. Namun bagi warga, trotoar Kenyamukan sudah terlanjur menjadi destinasi baru untuk menghabiskan sore.
Ironisnya, pelabuhan yang ditunggu-tunggu untuk menopang aktivitas logistik dan ekonomi justru belum benar-benar berfungsi. Sebaliknya, kawasan sekitarnya lebih dulu menjadi ruang hidup warga, sebuah pengingat bahwa sering kali ruang publik hadir bukan dari perencanaan matang pemerintah, melainkan dari kreativitas masyarakat yang tak bisa menunggu.
Penulis: Ramlah
Editor: Nicha R




