SANGATTA – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) kembali kehilangan calon investor. PT Anhui Guangxin Agrichemical, perusahaan asal China yang bergerak di bidang pabrik pupuk kimia, membatalkan rencana penanaman modalnya di kawasan yang sudah lebih dari satu dekade digadang sebagai pusat industri hilirisasi itu.
Alasan pembatalan bukan karena minat yang hilang, melainkan terkendala persoalan teknis. Proses sewa lahan dan tertib appraisal disebut masih menjadi hambatan yang belum terpecahkan.
Menurut Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kutim, Darsafani, pihak PT Anhui sebenarnya masih membuka peluang. “Mereka batal kali ini karena masalah teknis. Namun, PT Anhui akan kembali berkunjung untuk bertemu dengan Pak Gubernur, sekaligus membicarakan kemungkinan kesepakatan baru,” jelasnya kepada Media Kaltim, Senin (8/9/2025).

Ia menambahkan, jika kesepakatan bisa dicapai, investasi tetap berpotensi masuk. “Kita tunggu kunjungan lanjutan mereka. Harapannya, ada jalan keluar agar KEK Maloy bisa lebih berkembang,” sambungnya.
Namun, mundurnya PT Anhui menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi KEK Maloy. Sejak peresmian, kawasan ini berulang kali digembar-gemborkan sebagai motor pertumbuhan ekonomi baru di Kutim, tapi realisasi investasi tak kunjung stabil. Infrastruktur yang belum maksimal, tata kelola yang rumit, hingga persoalan lahan masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Jika persoalan mendasar tidak segera dibereskan, KEK Maloy dikhawatirkan hanya akan terus menjadi “proyek mercusuar” yang ramai di atas kertas, namun sulit memberi dampak nyata bagi ekonomi daerah maupun masyarakat sekitar.
Penulis: Ramlah
Editor: Nicha R


