SANGATTA – Sandaran, kecamatan pesisir di ujung timur Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim), selama bertahun-tahun hidup dalam paradoks. Dikelilingi hutan tropis dan laut kaya hasil, namun warganya lama hidup dalam kegelapan dan keterbatasan. Kini, cahaya hadir membawa keadilan energi menjadi senjata baru bagi wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) untuk melawan ketertinggalan.
Bagi Bedu (48), nelayan sekaligus pengolah ikan di Sandaran, gelap adalah batas antara rezeki dan kerugian.
“Sebelum listrik masuk, hasil tangkapan harus segera dijual. Kalau tidak, busuk. Es batu mahal, genset boros,” kenangnya, Rabu (22/10/2025).
Kini, sejak listrik 24 jam menyala, kehidupan berubah. Bedu bisa menyimpan stok ikan dalam freezer listrik, menyalakan mesin pengering dan pengemas, hingga memproduksi kerupuk ikan dengan kualitas yang bersaing.
“Listrik 24 jam itu bukan sekadar penerangan. Itu modal keadilan. Kami sekarang bisa jual produk yang tak kalah dari Samarinda atau Balikpapan,” ujarnya dengan bangga.
Transformasi ini tak lepas dari langkah masif PLN UP3 Bontang memperluas layanan listrik hingga pesisir Kutim.
Manajer PLN UP3 Bontang, Sri Wahyuningsih, menyebut peningkatan layanan di Kecamatan Sandara khususnya Desa Manubar dan Manubar Dalam sebagai bagian dari komitmen pemerataan energi di seluruh Kutai Timur.
“Saat ini ada 482 pelanggan, terdiri dari 190 pelanggan di Manubar dan 292 di Manubar Dalam. Dengan listrik 24 jam, kami berharap kualitas hidup, ekonomi, dan produktivitas warga meningkat,” jelasnya.
Peresmian layanan ini menjadi titik balik bagi Kecamatan Sandaran, cahaya yang kini tak lagi padam di malam hari menjadi simbol semangat baru di ujung timur.
Keberhasilan elektrifikasi Sandaran disambut hangat oleh Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman.
“Warga sudah lama menantikan listrik penuh waktu. Terima kasih kepada PLN yang mewujudkan harapan ini. Semoga desa lain segera menyusul,” ujarnya.
Menurutnya, listrik stabil bukan hanya penerangan, melainkan jaminan kesetaraan hak warga negara. Pemerataan energi memberi efek domino: pendidikan lebih inklusif, layanan kesehatan lebih andal, dan ekonomi rakyat lebih hidup.
Dari pelita yang redup hingga mesin pengolah digital yang berdentum, Sandaran kini melangkah menuju masa depan yang terang.
Listrik di pesisir bukan sekadar proyek infrastruktur, tapi investasi jangka panjang untuk mengubah paradoks tanah kaya menjadi potensi nyata.
Ketika setiap warga, dari pesisir hingga pedalaman, merasakan manfaat energi secara setara, maka cita-cita besar “Energi Berdaulat untuk Indonesia Kuat” bukan lagi sekadar slogan tapi kenyataan yang menyala di Sandaran.
Penulis: Ramlah
Editor: Nicha R


