SANGATTA – Baru-baru ini, tim gabungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Centre for Orangutan Protection (COP), dan PT Kaltim Prima Coal (KPC) berhasil menyelamatkan seekor orangutan jantan dewasa yang terjebak di area pertambangan PT KPC. Orangutan tersebut akan menjalani rehabilitasi sebelum dilepasliarkan ke habitat yang lebih aman.
Namun, upaya penyelamatan ini tidak mendapat sambutan positif dari Fraksi Rakyat Kutim (FRK). Ketua FRK, Erwin F. Syuhada, menilai bahwa penyelamatan orangutan bukanlah hal yang patut dibanggakan. Menurutnya, semakin maraknya penyelamatan satwa liar justru mencerminkan krisis lingkungan yang semakin parah akibat deforestasi dan ekspansi industri ekstraktif seperti tambang batu bara dan perkebunan sawit.
“Setiap kali kita menyelamatkan orangutan dari perkebunan sawit atau tambang, kita harus bertanya: kenapa mereka bisa sampai di sana? Ini bukan soal keberhasilan konservasi, tapi alarm darurat bagi keberlanjutan ekosistem. Jangan bangga dulu, karena bisa jadi ini sekadar narasi greenwashing yang menutupi kehancuran hutan kita,” tegas Erwin kepada Media, Jumat (21/2/2025).
Ia menegaskan krisis ini bukan sekadar tentang penyelamatan individu orangutan, tetapi cerminan dari hilangnya hutan sebagai rumah mereka akibat ekspansi industri tambang dan perkebunan.
Populasi orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus morio) menurun drastis dari 288.500 pada 1973 menjadi 57.350 individu saat ini, turun 80 persen dalam kurang dari 50 tahun. Deforestasi akibat tambang batu bara dan perkebunan sawit, termasuk konsesi 61.543 hektare milik PT KPC, menjadi penyebab utama.
“PT KPC dan industri ekstraktif lainnya di Kutai Timur tidak bisa hanya berbangga dengan aksi penyelamatan ini. Komitmen mereka terhadap lingkungan harus diukur bukan dari berapa banyak orangutan yang mereka selamatkan, tetapi dari sejauh mana mereka mencegah habitat orangutan terus hancur. Kalau penyelamatan seperti ini terus berulang, artinya ada yang salah dalam pendekatan pengelolaan lingkungan mereka,” sebut Erwin.
Ia menambahkan, narasi “konservasi” perlu dikritis. Agar tidak sekadar menjadi greenwashing. Solusi jangka panjang seperti moratorium tambang, audit reklamasi, dan keterlibatan masyarakat harus diutamakan. Jika perusakan habitat terus berlanjut, orangutan akan semakin langka, sementara ekspansi industri tambang mengancam tidak hanya satwa, tetapi juga keseimbangan ekosistem.
Pewarta : Ramlah Effendy
Editor : Nicha R