Angkot di Sangatta Kian Tergerus, Dishub Kutim: Hampir Punah, Tapi Masih Dibutuhkan Pelajar

SANGATTA — Keberadaan angkutan kota (angkot) di Sangatta kini berada pada titik paling mengkhawatirkan dalam dua dekade terakhir. Armada yang dulu menjadi tulang punggung mobilitas warga perlahan hilang dari jalan raya, tersisih oleh dominasi kendaraan pribadi yang terus meningkat.

Dinas Perhubungan (Dishub) Kutai Timur (Kutim) mengakui gejala tersebut. Kepala Seksi Lalu Lintas Dishub Kutim, Zulkarnain, menyampaikan kondisi yang makin suram dari tahun ke tahun.

“Angkot di sini hampir punah. Masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi daripada angkutan umum,” ujarnya, menegaskan situasi yang selama ini hanya menjadi keluhan di lapangan.

Meski jumlah armada terus menipis, sebagian pelajar masih bergantung pada angkot. Beberapa sekolah menerapkan larangan membawa kendaraan pribadi, sehingga angkot tetap menjadi moda yang dibutuhkan.

Namun tanpa perbaikan layanan, peremajaan armada, maupun dukungan kebijakan, keberlangsungan angkot makin tidak pasti. Di sisi lain, masyarakat terus didorong membeli kendaraan pribadi melalui skema kredit yang semakin mudah.

Zulkarnain menyebut kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), antrean panjang di SPBU, serta ketatnya persaingan dengan moda transportasi lain sebagai tekanan berat bagi sopir angkot.

Baca Juga:   Bazaar Ramadan di Sangatta Utara, Siap Tingkatkan Pendapatan UMKM 

“BBM naik, antrean panjang, kendaraan pribadi makin mudah dibeli. Belum lagi hadirnya ojek online. Masyarakat akhirnya malas menggunakan angkot,” jelasnya.

Namun persoalan ini tidak berhenti pada BBM atau ojek online. Minimnya perhatian pemerintah terhadap transportasi publik, ketiadaan insentif bagi pengusaha angkot, serta kebijakan trayek yang stagnan ikut mempercepat keruntuhan layanan angkutan umum.

Jika tren ini terus berlanjut, Sangatta terancam menjadi kota tanpa transportasi publik memadai. Dampaknya bukan hanya mobilitas yang semakin mahal, tetapi juga meningkatnya kemacetan, polusi, dan ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi.

Angkot yang dulu menjadi urat nadi mobilitas para pekerja dan pelajar kini berada di ambang kepunahan—dan hingga kini, belum ada langkah korektif yang benar-benar terlihat dari pemerintah.

Penulis: Ramlah
Editor: Agus S