Cabai Turun Tajam! Dari Rp200 Ribu ke Rp75 Ribu, Pasar Sangatta Kembali Hidup

SANGATTA – Harga cabai di Kabupaten Kutai Timur akhirnya “mendingin”. Setelah sempat melambung hingga di atas Rp200 ribu per kilogram, kini harga komoditas favorit dapur itu anjlok tajam ke kisaran Rp75 ribu per kilogram.

Penurunan drastis ini langsung menghidupkan kembali aktivitas pasar tradisional di Sangatta. Jika sebelumnya pembeli menahan belanja karena harga yang terlalu tinggi, kini transaksi mulai ramai dan perputaran barang kembali normal.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Timur, Nora Ramadhani, menjelaskan bahwa lonjakan harga sebelumnya dipicu oleh terganggunya pasokan dari luar daerah.

“Pasokan dari Jawa dan Sulawesi sempat kosong akibat gagal panen. Sementara produksi lokal kita hanya mampu memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan, sehingga harga melonjak tajam,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).

Kini, kondisi tersebut mulai teratasi. Jalur distribusi kembali lancar dan stok cabai dari daerah penghasil mulai membanjiri pasar. Hal ini membuat harga berangsur turun dalam waktu singkat.

Petugas Bapokting Pasar Induk Sangatta, Yeni, mengungkapkan bahwa dua hari sebelumnya harga cabai rawit masih berada di angka Rp150 ribu per kilogram, bahkan sempat menyentuh lebih tinggi saat stok benar-benar langka.

Baca Juga:   Respons Keluhan Warga Soal BBM Oplosan, Disperindag Kutim dan Polres Gelar Sidak di SPBU STC

“Sekarang sudah turun jadi Rp75 ribu per kilogram. Stok sudah banyak, jadi harga ikut turun dan pembeli mulai ramai lagi,” jelasnya.

Para pedagang pun menyambut positif kondisi ini. Saat harga tinggi, mereka cenderung membatasi stok karena khawatir tidak laku dan berujung kerugian. Kini, dengan harga yang lebih terjangkau, mereka kembali berani menambah pasokan.

Disperindag Kutai Timur memastikan akan terus melakukan pengawasan ketat terhadap pergerakan harga bahan pokok. Langkah ini untuk mencegah adanya spekulasi harga sekaligus menjaga stabilitas pasar.

Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong penguatan sektor pertanian lokal sebagai solusi jangka panjang agar ketergantungan terhadap pasokan luar daerah dapat ditekan.

“Kami akan terus memantau setiap hari. Jika terjadi lonjakan lagi, intervensi seperti operasi pasar murah akan segera dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat,” tegas Nora.

Penulis: Ramlah