SANGATTA – Kasus dugaan campak di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai menjadi perhatian serius. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim mencatat 105 kasus suspek campak sejak awal Januari hingga pekan pertama Maret 2026. Seluruh kasus tersebut masih berstatus suspek dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur, dr Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan sampel kasus yang ditemukan telah dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Kalimantan Timur di Samarinda untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
“Sejak minggu pertama Januari sampai minggu pertama Maret jumlah suspek campak sudah mencapai 105 kasus. Saat ini statusnya masih suspek karena kita masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Samarinda,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (11/3/2026).
Ia menjelaskan, temuan suspek campak tersebut hampir tersebar di seluruh kecamatan di Kutai Timur. Namun, jumlah terbanyak tercatat di Sangatta Utara, Teluk Pandan, dan Sangatta Selatan.
Menurutnya, kondisi ini perlu diwaspadai karena jika ada satu saja hasil laboratorium yang dinyatakan positif, maka dapat dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Campak sendiri merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus morbilli dan sangat mudah menular. Penularan umumnya terjadi melalui percikan ludah atau droplet saat penderita batuk maupun bersin.
“Penularannya sangat cepat, bisa melalui percikan ludah, air liur, maupun cairan dari penderita. Gejalanya biasanya diawali demam, kemudian muncul ruam kemerahan di kulit, disertai batuk, pilek dan mata merah,” jelasnya.
dr Yuwana menegaskan penyakit campak tidak boleh dianggap sepele. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius, terutama pada bayi dan anak-anak.
“Komplikasinya bisa berupa infeksi telinga, pneumonia hingga radang selaput otak. Bahkan dalam kasus tertentu bisa menyebabkan kematian,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Kutai Timur meningkatkan kewaspadaan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari puskesmas, klinik hingga rumah sakit. Setiap kasus demam yang disertai ruam diminta segera dilaporkan melalui sistem surveilans kesehatan.
Selain itu, anak yang mengalami gejala campak juga disarankan untuk sementara waktu tidak beraktivitas di luar rumah guna mencegah penularan.
“Kalau ada anak yang mengalami gejala campak sebaiknya tidak dulu pergi ke sekolah atau beraktivitas di luar rumah agar tidak menularkan kepada orang lain,” ujarnya.
Dinkes juga mengimbau masyarakat memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi campak atau Measles Rubella (MR) secara lengkap. Saat ini cakupan imunisasi campak di Kutai Timur tercatat sekitar 88 persen, namun untuk dosis kedua baru mencapai 65 persen.
Karena itu, para orang tua diminta segera membawa bayi dan balita ke posyandu atau puskesmas terdekat untuk melengkapi imunisasi dasar.
“Kami mengimbau para ibu yang memiliki bayi atau balita yang belum mendapatkan imunisasi dasar, termasuk vaksin campak, agar segera datang ke posyandu atau fasilitas kesehatan terdekat,” pungkasnya.
Penulis: Ramlah


