Harga Batu Bara Menguat Tiga Hari Beruntun, Prospek Masih Penuh Tantangan

SAMARINDA – Harga batu bara global masih menunjukkan ketahanan di tengah dinamika pasar energi dunia. Meski menguat dalam beberapa hari terakhir, ruang kenaikan dinilai masih terbatas karena dibayangi tingginya pasokan serta lemahnya permintaan dari sejumlah negara konsumen utama.

Pada perdagangan Senin (20/7/2026), harga batu bara termal naik 0,30 persen menjadi US$133,75 per ton, sekaligus memperpanjang tren positif selama tiga hari perdagangan terakhir. Sementara itu, kontrak batu bara Australia masih bergerak di kisaran US$130 per ton atau mendekati level terendah sejak awal Maret.

Penguatan tersebut didorong kenaikan harga minyak dunia yang kembali terdampak meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik menjadi sekitar US$83,23 per barel, sedangkan Brent menguat hingga US$89,22 per barel.

Secara historis, batu bara dan minyak merupakan komoditas energi yang saling menjadi alternatif. Ketika harga minyak meningkat, permintaan terhadap batu bara berpotensi ikut terdorong karena menjadi pilihan pembangkit listrik yang lebih ekonomis.

Baca Juga:   Pemangkasan Bankeu Jadi Isu, Kukar Tegaskan Posisi

Namun, di balik sentimen positif tersebut, pasar masih dibayangi tekanan dari sisi fundamental.

Permintaan batu bara dari India belum menunjukkan pemulihan yang signifikan. Pelemahan nilai tukar rupee serta meningkatnya produksi batu bara domestik membuat perusahaan utilitas di negara tersebut terus mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Kondisi itu diperparah dengan tingginya stok batu bara di pelabuhan-pelabuhan utara China. Meski musim panas diperkirakan meningkatkan konsumsi listrik, ketersediaan stok yang melimpah membuat perusahaan listrik di Negeri Tirai Bambu belum terburu-buru melakukan pembelian dalam jumlah besar.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik tetap menjadi faktor penyangga harga. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran terhadap jalur distribusi energi global, termasuk setelah sejumlah kapal LNG mengurangi aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz akibat meningkatnya risiko keamanan.

Situasi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Jepang dan Korea Selatan, sebagai dua importir utama batu bara berkualitas tinggi dari Australia, masih akan mempertahankan kebutuhan impornya untuk menjaga pasokan energi.

Meski demikian, para analis menilai harga batu bara dalam jangka pendek cenderung bergerak terbatas. Selama pasokan global tetap melimpah dan stok di China masih tinggi, potensi kenaikan harga diperkirakan tidak akan berlangsung agresif, kecuali terjadi gangguan pasokan yang lebih besar atau lonjakan permintaan listrik yang melampaui proyeksi pasar.

Baca Juga:   Kasus Kaltara dan Kinerja Bank Jadi Alasan Pergantian

Bagi Indonesia sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar di dunia, perkembangan harga global ini menjadi indikator penting. Stabilnya harga di atas level US$130 per ton masih memberikan ruang positif bagi kinerja ekspor. Namun, tekanan dari sisi permintaan global tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai dalam beberapa bulan ke depan.

Pewarta: K. Irul Umam

Editor: Agus S.