Hari Anak Nasional di Kutim, Lawan Pernikahan Dini dan Bahaya Dunia Digital

SANGATTA-Dalam semangat memperingati Hari Anak Nasional (HAN) ke-41 tahun 2025, Pemerintah Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) menggelar seminar bertema “Anak Cerdas Digital dan Stop Pernikahan Anak”, yang digelar di Ruang Meranti, kegiatan ini menjadi bagian dari kampanye nasional “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045.”

Kepala DP3A Kutim, Idham Cholid, menyoroti dua isu utama yang dinilai mengancam masa depan generasi muda yakni pernikahan usia dini dan penggunaan gawai tanpa pengawasan.

“Data dari BPS tahun 2024 menunjukkan bahwa 39,71 persen anak usia dini sudah menggunakan ponsel, 35,37 persen telah mengakses internet, bahkan 5,88 persen anak usia di bawah 1 tahun terbiasa dengan gawai,” beber Idham di hadapan peserta seminar, Senin (28/7/2025).

Ia mengingatkan meskipun teknologi membawa manfaat, namun tanpa kontrol orang tua, anak-anak sangat rentan terhadap konten yang tidak sesuai usia, seperti pornografi, kekerasan digital, dan judi online.

“Kita sering melihat anak diberikan HP agar diam saat di pasar atau tempat umum. Tapi tanpa disadari, itu bisa menjadi pintu masuk konten negatif,” tambahnya.

Baca Juga:   Jadi Sahabat Kritis, Demokrat Kutim Keluar dari Koalisi ASKB

Selain bahaya digital, Idham juga menegaskan bahwa pernikahan anak masih menjadi persoalan serius di Kutim. Berdasarkan data dari Pengadilan Agama, tercatat ada 111 permohonan dispensasi nikah sepanjang tahun 2023.

“Pernikahan dini tidak hanya merampas hak anak untuk belajar dan berkembang, tapi juga berdampak besar pada kesehatan fisik dan mental mereka,” ujarnya.

Ia berharap edukasi dan peran aktif orang tua bisa menekan angka ini ke depannya.

Senada, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Pemkesra) Kutim, Poniso Suryo Renggono, menyampaikan bahwa tantangan masa kini sangat kompleks. Anak-anak tak hanya menghadapi risiko kekerasan fisik, tapi juga ancaman virtual.

“Kita harus jujur, dunia anak sekarang jauh berbeda. Ada ancaman dari game online yang tidak sesuai usia, tayangan kekerasan, hingga perundungan di media sosial,” kata Poniso.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi seluruh elemen masyarakat pemerintah, sekolah, orang tua, dan komunitas untuk memastikan anak-anak di Kutim tumbuh dengan aman, sehat, dan berdaya.

“Kita ingin anak-anak dari semua latar belakang punya hak yang sama untuk dilindungi, didampingi, dan dipersiapkan menjadi generasi emas Indonesia,” pungkasnya.

Baca Juga:   Pemkab Kutim Pasang Ultimatum, Bus Karyawan Wajib Masuk Titik Jemput Resmi

Seminar ini diisi dengan diskusi dan edukasi seputar literasi digital, perlindungan anak, serta dampak sosial dan psikologis pernikahan dini. DP3A Kutim juga mengajak seluruh peserta menandatangani komitmen bersama untuk lebih aktif dalam melindungi hak dan masa depan anak-anak di Bumi Tuah Bumi Untung Benua.

Pewarta : Ramlah Effendy
Editor : Nicha R